Rabu, 18 Februari 2009

Kentut sapi bisa jadi faktor penyebab global warming


Eh, tahukah Anda apa yang ada di punggung sapi itu? Aha, Anda pasti tidak mengira bahwa yang ada di dalam tangki plastik itu adalah kentut binatang yang dikumpulin. Ah, bercanda, ya? Tidak, saya sama sekali tidak sedang mencoba membuat Anda tersenyum.

Pagi ini saya membaca situs Telegraph tentang efek rumah kaca yang disebabkan oleh kentut sapi. Ah, bagaimana mungkin?

Nah, para ahli mengatakan bahwa sistem pencernaan sapi yang lambat ternyata menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa binatang itu menghasilkan banyak gas metana. Asal Anda tahu, gas metana itu juga banyak terkandung dalam kentut. Nah, ternyata gas metana juga potensial menghasilkan efek rumah kaca, sama seperti korbon dioksida.

Dalam upaya memahami dampak dari “angin surga” yang dihasilkan oleh sapi-sapi terhadap pemanasan global, para ahli kemudian mengumpulkan gas yang berasal dari dalam perut sapi. Gas itu dimasukkan ke dalam tanki plastik yang diletakkan di atas punggung binatang memamah biak ini.

Peneliti dari Argentina menemukan fakta bahwa gas metana dari sapi menyumbang lebih dari 30% total emisi yang menyebabkan efekrumah kaca negara itu. Sebagai salah satu negara penghasil daging sapi terbesar di dunia, Argentina mempunyai lebih dari 55 juta ekor sapi yang merumput di Pampas.

Guillermo Berr, seorang peneliti dari Institut Nasional Teknologi Agrikultur mengatakan bahwa setiap sapi memproduksi 8000 sampai 1,000 liter emisi setiap hari. Metana, yang juga dihasilkan oleh tempat pembuangan sampah, tambang batubara dan pipa gas yang bocor, ternyata 23 kali lebih efektif dalam menjerat panas di atmosfer daripada karbon dioksida.

Para peneliti di Argentina sekarang sedang melakukan percobaan diet untuk sapi-sapi itu untuk memperbaiki sistem pencernaan dan diharapkan menurunkan suhu di bumi.

Ah, gara-gara global warming, kentut sapi pun dimasukkan ke dalam tanki plastik. Ada-ada saja!

Minggu, 08 Februari 2009

Sangat Sedikit Orang Indonesia yang Paham Perubahan Iklim

Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar ketika berbicara dalam forum peluncuran laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI), di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa orang Indonesia yang paham fenomena perubahan iklim masih sedikit.

Menurut Rachmat, perubahan iklim memerlukan tidak cuma sokongan dana tapi juga perubahan kesadaran dari banyak pihak.

"Perlu ada penyadaran soal perubahan iklim, dan ini dengan kasih sayang," dia menegaskan.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat ini paling banyak hanya 200 ribu hingga satu juta orang saja di Indonesia yang paham soal perubahan iklim dan ancaman-ancamannya.

Padahal ada sekitar 220 juta orang penduduk Indonesia yang seharusnya mengerti tentang fenomena perubahan iklim, Rachmat menambahkan.

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Australia atau negara adidaya Amerika Serikat, masih kata Rachmat, tingkat kepedulian dan rasio penduduk yang memahami perubahan iklim Indonesia masih sangat rendah.

Dalam kesempatan itu Rachmat juga mengaku prihatin dengan pergeseran isu perubahan iklim dari lingkup lingkungan hidup menjadi bahasan politik.

"Perubahan iklim sudah dibawa ke luar ranah lingkungan hidup, sudah masuk ke ranah politik, sehingga kepentingan-kepentingan politik nasional masing-masing negara yang lebih menonjol," katanya.

Ia menegaskan bahwa Amerika dan Australia dalam pertemuan APEC lalu menunjukkan perubahan pandangan yang sangat ekstrim soal perubahan iklim.

"Bush dan Howard sekarang berbalik setuju bahwa perubahan iklim itu nyata, dan pintu uang terbuka luas buat Indonesia agar melestarikan hutan sebagai paru-paru dunia," katanya

Jumat, 06 Februari 2009

Mari Kita Cegah Global Warming

Semua seharusnya udah tau mengenai issue yang satu ini deh. Issue mengenai Global Warming bener-bener lagi mendunia. Dimana-mana menyerukan supaya kita turut serta mencegah global warming. Di semua benua sedang giat-giatnya mengadakan berbagai event untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menggugah orang-orang untuk turut andil dalam aksi global warming ini. Semua beritanya jg ada dimana-mana, di koran, di TV, bahkan sampai ke konser-konser musik menggusung tema yang sama. Nah, yang jadi bahan pertanyaan di kepala saya sekarang adalah apakah kita hanya sekedar tau dan membaca atau menonton berita ttg Global Warming ini tanpa bertindak apa-apa, ataukah kita bener-bener prihatin sama keadaan bumi saat ini dan bener-bener bertekad untuk membantu mencegah terjadinya global warming tersebut ??

Buat yang belum tau mengenai apakah global warming itu, saya coba untuk menceritakan sedikit apa yang saya tau dan yang saya dapetin dari sumber-sumber yang sebenernya ada banyak di internet. Global Warming adalah kondisi dimana perubahan iklim dunia sekarang sudah benar-benar ekstrem. Cuaca dari panas menyengat tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat, badai muncul dimana-mana, dan lain sebagainya, yang intinya pasti tidak menyenangkan dan membuat kekuatiran dimana-mana. Perubahan kondisi alam seperti itu menyebabkan banyak sekali dampak. Paling ekstrem menurut saya adalah naiknya kuantitas air dikarenakan es di kutub yang mulai mencair sedikit demi sedikit. Selain itu juga pastinya menyebabkan berbagai gangguan kesehatan dan beberapa jenis species hewan di bumi terancam kelangsungan hidupnya (contoh : si beruang kutub yang cute and keren itu kehidupannya sedang terancam banget sekarang). Serem ya ...


Apa sih yang menyebabkan kondisi bumi jadi parah seperti ini ? Sayangnya, hal ini disebabkan oleh manusia sendiri loh, artinya dalam skala kecil ya kita-kita ini biang keladinya. Semakin tinggi teknologi dan kemajuan jaman, ternyata menuntut banyak pengorbanan besar dari alam. Pohon-pohon di hutan ditebangi sampai hutan menjadi gundul, atau hutan-hutan dibakar sehingga hasil pembakarannya menimbulkan gas CO2 yang jumlahnya banyak. Selain itu, kemajuan teknologi dan industri juga menyebabkan jumlah asap pabrik dan asap kendaraan bermotor (baca = CO2) semakin memenuhi atmosfer bumi. Semakin banyaknya jumlah gas CO2 yang berkumpul di atmosfer itu menyebabkan panas matahari yang masuk ke bumi tidak semuanya bisa dipantulkan kembali ke atas, sehingga terjadi efek rumah kaca yang otomatis menyebabkan suhu bumi menjadi lebih panas dan semakin panas dari detik ke detik. Serem gak sih ? Kebayang gak sih kalau bumi ini udah semakin panas ? Jakarta aja sekarang panasnya udah amit-amit, gimana Jakarta di tahun-tahun mendatang ?? Serem !!!

Nah, kalau sudah mengerti apa itu Global Warming dan penyebabnya dan dampaknya buat kita, pertanyaan selanjutnya (seharusnya) adalah bagaimana dan apa yang harus kita lakukan untuk mencegah Global Warming itu ? Pastinya ada hal-hal kecil dan mudah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dong. Beberapa hal yang dapat kita lakukan tersebut saya ambil dari beberapa website, antara lain :
Mengganti lampu neon biasa di rumah dengan lampu fluorescent yang hemat energi.
Cek jumlah atau tekanan angin ban kendaraan setiap bulannya biar bensin gak boros gara-gara ban kempes.
Cek saringan atau filter udara kendaraan setiap bulannya.
Kalau punya mesin cuci piring, hanya menggunakannya kalau cucian piringnya bener-bener udah penuh.
Menggunakan kertas-kertas atau material lainnya yang berasal dari bahan recycle.
Kalau pakai water heater, diusahakan pemanasnya tidak melebihi 120 derajat Fahrenheit (kalau mau tau celciusnya, itung sendiri ya.. atau barangkali ada yg mau bantu ??)
Rajin-rajin bersihin filter AC di rumah.
Kalau mandi shower, jangan lama-lama terutama buat yang pake water heater, biar menghemat energi dan biaya dari water heaternya itu loh.
Kalau mau belanja sesuatu, belinya di daerah sekitar rumah aja biar menghemat energi dari jarak antara rumah dan toko. Misalnya, kalau ada pasar traditional deket rumah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, gak usah beli ke carefur yang lebih jauh yang musti naek mobil.
Beli barang yang gak menggunakan banyak packaging. Makin sedikit packagingnya, artinya makin sedikit juga sampah yang harus dibakar.
Kalau punya uang, beli mobil hybrid --> Indonesia belon ada sih, tapi kalau udah masuk mungkin bisa dijadiin pilihan utama buat yang mau beli mobil.
Beli mobil yang irit bahan bakar. Kalau bisa yang 1000 cc kenapa musti pake yang 2500 cc yang artinya makin gede cc nya, makin boros bensin.
Kalau mobilnya kosong, napa nggak bareng-bareng sama temen-temen laen yang searah dan setujuan ?
Yang punya sepeda bisa ikutan komunitas "Bike to Work", ato yang laen bisa naek kendaraan umum daripada naek mobil pribadi.
Jangan kelamaan membiarkan kendaraan dalam kondisi idle. Kalau kena macet parah ato pas di lampu merah, mending mesinnya dimatiin dulu daripada nyala n knalpot ngepul terus.
Menanam tanaman dan pohon di rumah. Selain pemandangan jadi asri, udara jg lebih sejuk, dan yang pasti tanaman dan pepohonan akan membantu penyerapan CO2.
Ganti barang-barang yang boros energi. Misalnya, kompor yang gasnya boros, mesin cuci yang boros listrik, dll.
Daripada pake pengering pakaian, lebih baik pake tali jemuran aja kalau abis cuci baju.
Kalau punya alat pemotong rumput, pilih yang manual daripada yang pake listrik. Selain hemat biaya listrik, otot tangan jg jadi tambah kekar tuh.
Selalu cabut colokan listrik kalau gak terpakai. Contohnya, kabel TV dicabut kalau udah gak nonton TV lagi, jangan dibiarin aja tetep nempel di colokannya.
Beli makanan organik, karena makanan yang mengandung kimia berasal dari pabrik, si penghasil limbah.
Kalau pergi ke supermarket, bawa tas kain aja daripada nenteng plastik blanjaannya. Plastik itu bahan yang paling susah direcyle loh.
Matiin komputer kalau gak dipake. Lebih hemat energi listrik kalau komputer kita dalam "sleep mode" daripada nyalain screensaver.
Jangan sering-sering pergi naek pesawat terbang, karena pesawat terbang paling menghabiskan banyak bahan bakar loh.
Ternyata ada banyak sekali cara buat kita turut berpartisipasi dalam mencegah Global Warming ini. Tingal pilih-pilih mana yang bisa kita lakukan dan lakukanlah dengan konsisten. Saya yakin, kalau semua manusia di bumi membantu dengan hal-hal kecil, bumi masih bisa diselamatkan kok.

Beberapa link mengenai Global Warming :
http://www.stopglobalwarming.org
http://www.aninconvenienttruth.co.uk
http://www.climatecrisis.net
http://www.globalwarming.org

Senin, 19 Januari 2009

Mengenal Efek Rumah Kaca


Istilah Efek Rumah Kaca (green house effect) berasal dari pengalaman para petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca. Yang terjadi dengan rumah kaca ini, cahaya matahari menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar infra merah. Namun gelombang panas itu terperangkap di dalam ruangan kaca serta tidak bercampur dengan udara dingin di luarnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Inilah gambaran sederhana terjadinya efek rumah kaca (ERK).

Pengalaman petani di atas kemudian dikaitkan dengan apa yang terjadi pada bumi dan atmosfir. Lapisan atmosfir terdiri dari, berturut-turut: troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer: Lapisan terbawah (troposfir) adalah yang yang terpenting dalam kasus ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah.

Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H20, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Terjadilah Efek Rumah Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca.

Seandainya tidak ada ERK, suhu rata-rata bumi akan sekitar minus 180 C — terlalu dingin untuk kehidupan manusia. Dengan adanya ERK, suhu rata-rata bumi 330 C lebih tinggi, yaitu 150C. Jadi, ERK membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia.

Namun, ketika pancaran kembali sinar inframerah terperangkap oleh CO2 dan gas lainnya, maka sinar inframerah akan kembali memantul ke bumi dan suhu bumi menjadi naik. Dibandingkan tahun 50-an misalnya, kini suhu bumi telah naik sekitar 0,20 C lebih.

Protokol Kyoto

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003)

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). [1] Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.


Detil Protokol

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB:

"Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca - karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia." [2]

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang.

Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.



Status persetujuan


Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi [3]. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini [4].

Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku "pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan." Dari kedua syarat tersebut, bagian "55 pihak" dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November 2004 memenuhi syarat "55 persen" dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.

Menyelamatkan Bumi Secara Bersama-sama


Persoalan menyelamatkan lingkungan alam memang seharusnya menjadi tanggungjawab bersama. Bukan saja antar mahluk namun juga antar kebijakan berbagai negara. Indonesia memiliki kepentingannya sendiri, demikian pula negara lain. Namun diantara berbagai perbedaan kepentingan yang ada, kepentingan menyelamatkan kehidupan di bumu harus menjadi kepentingan bersama. Berkaitan dengan hal itu, dalam sebuah acara di Bali pertengahan bulan Nopember 2007, Presiden SBY mengemukakan pikiran, gagasan dan ajakan kepada rakyat serta masyarakat dunia. Dibawah ini adalah cuplikan dan inti dari pernyataan Presiden SBY.

Adalah menjadi tugas dan misi kita untuk melestarikan alam semesta, menyelamatkan bumi dan tanah air kita, dimana kita hidup dan juga tempat hidup untuk cucu dan generasi mendatang. Kita tentu harus melihat secara utuh alam semesta ini, tanah air, dan bumi kita, yang tentu harus memberikan manfaat terbesar bagi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia lahir dan bathin, sekarang dan masa depan.

Kita tidak boleh egois, dengan keserakahan katakanlah dengan tanggung jawab yang rendah, kita menguras semuanya itu dan tidak menyisakan untuk generasi yang akan datang. Kita merusak yang menimbulkan bencana dan malapetaka yang tentunya akan mengganggu civilization atau peradaban dan segala kehidupan di muka bumi ini. Bagi Saudara-saudara yang beragama Hindu juga dikenal yang kita sebut dengan Tripitaka, kedekatan manusia dengan Yang Maha Pencipta, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya. Saya kira ini memiliki nafas dan wilayah universal. Marilah kita wujudkan satu yang baik yang diajarkan oleh agama itu untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia, utamanya di negeri kita dan tentunya di seluruh dunia.

Saya setuju, saya garis bawahi, dan saya dukung semua prakarsa untuk mengembangkan pusat-pusat seperti taman safari, kebun binatang, taman hewan, museum, galeri, dan lain-lain. Karena jelas tempat-tempat ini baik untuk belajar, untuk study mengenal alam, mengenal flora dan fauna. Yang kedua, juga bisa dilakukan penelitian, research, yang baik. Yang ketiga, tentu baik untuk kita bergembira, sehingga bisa menjadi tempat hiburan, tempat rekreasi yang baik. Dan apabila dikaitkan dengan ekonomi serta kesejahteraan juga menjadi objek wisata yang juga harus menarik bagi para pengunjung. Saya sungguh-sungguh mengajakkita semua untuk bisa mengembangkan objek-objek seperti ini.

Sering saya katakan di berbagai kesempatan, bahwa dunia sekarang ini sedang menuju pada era baru yang kita sebut dengan gelombang keempat, peradaban manusia, fourth wave of civilization. Gelombang pertama, abad pertanian. Gelombang kedua, abad industri. Gelombang ketiga, informasi. Keempat adalah sesungguhnya gelombang 3 plus, yaitu yang bercirikan penghormatan dan keramahan pada lingkungan, karena hanya dengan itulah kehidupan manusia akan terus berlangsung, kita survive dalam kehidupan di dunia ini.

Itulah pula dunia makin sadar, bahwa buminya makin tua, kalau tidak kita pelihara akan makin rusak, sebagaimana presentasi dari Saudara Rahmatsyah tadi, sehingga kita harus bersatu, melangkah bersama, bertindak bersama pula untuk menyelamatkan bumi kita. Itulah sebabnya bulan depan di Denpasar, Pulau Dewata ini akan dilaksanakan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas, bagaimana kita menghadapi perubahan iklim, climate change dan akhirnya kita bersama-sama dapat menyelamatkan bumi dan masa depan kita.

Kembali kepada peradaban gelombang keempat tadi. Kita harus bisa mengantisipasi, mempersiapkan diri dengan baik, karena ekonomi pun, ekonomi yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat harus bisa kita kaitkan dengan karakter peradaban gelombang keempat itu. Bukan hanya ekonomi yangberbasiskan pertanian, berbasiskan industri dan berbasiskan jasa informasi, tetapi ekonomi yang juga berbasiskan pada lingkungan dalam arti luas. Ekonomi kreatif yang memadukan seni, kreativitas dan teknologi. Ekonomi produk budaya, culture economy, ekonomi warisan, warisan sejarah, heritage economy, ekonomi lingkungan, wisata lingkungan, eco-tourism, eco-economy. Itu karakter ekonomi gelombang keempat. Indonesia kaya, dengan potensi itu,oleh karena itu, marilah kita menjemput masa depan seperti itu dan kita bersama-sama daya gunakan keunggulan yang dimiliki di negeri kita ini untuk menuju ekonomi gelombang keempat.

Go Global Atau Go Local

Sering ada pertanyaan yang betul itu go global atau go local? Apakah kita harus masuk pada ekonomi dunia yang serba global atau justru kita mendayagunakan keunggulan-keunggulan setempat, keunggulan lokal kita. Saya mengajak, jangan dipertentangkan. Kita sudah hidup dalam era globalisasi. Ekonomi setiap negara terintegrasi dalam era globalisasi. Ekonomi setiap negara terintegrasi dengan ekonomi global. Paling sedikit yang banyak mendapatkan manfaat dari wisata. Wisatawan asing contoh, bahwa ekonomi Bali terintegrasi dengan ekonomi global.

Oleh karena itu, tidak perlu kita gamang terhadap globalisasi. Globalisasi tentu mendatangkan peluang dan tantangan, ada yang baik-baik, ada yang buruk-buruk. Yang buruk jangan diterima, yang baik, baik untuk kita. Ada kompetisi, ada kerjasama. Kita tidak bisa membuktikan dengan globalisasi yang penting kita harus tegas dan menang dalam globalisasi. Tetapi disamping wawasan dan cara-cara yang bersifat global tadi, jangan lupa bahwa akhirnya rakyat kita, rumah tangga kita berada di tempat-tempat yang saya sebut dengan lokal tadi.

Mereka, kalau ada kantong-kantong kemiskinan di negeri ini, ya di desa-desa, di Kecamatan, kalau ada yang masih menganggur ya di Desa, di Kecamatan. Yang merasakan apakah kesejahteraannya makin baik, ya yang tinggal di Desa dan Kecamatan tadi. Oleh karena itu, kalau kita memaknai go local, marilah kita lihat persoalan secara lokal pula. Para Kepala Desa, para Camat, para Bupati, Walikota lokal, menggunakan kekuatan lokal, keunggulan lokal untuk memecahkan masalah lokal tadi. Kalau semua Desa di negeri ini, Kecamatan di Indonesia, Kabupaten dan Kota di negeri yang kita cintai ini berpikir dan bertindak seperti itu, ada masalah lokal, ada tanggung jawab, pemimpin lokal dan dipecahkan secara baik, maka secara keseluruhan Indonesia ke depan akan makin baik. Ini yang saya maksudkan dengan go local. Jangan kita lupa melihat bahwa ada persoalan lokal yang harus dipecahkan, tapi juga ada potensi dan keunggulan lokal yang harus kita daya gunakan sebaik-baiknya. Dengan menggunakan potensi lokal kita bisa membangun daya saing.

Saya ingin semua pemimpin memiliki kreativitas, memiliki inovasi-inovasi tertentu, bertanggung jawab untuk memecahkan masalah lokal tadi. Saya bertanggung jawab terhadap apa yang ada di Indonesia. Pak Gubernur bertanggung jawab terhadap apa yang ada di Provinsi . Pak Bupati bertanggung jawab maju mundurnya Kabupaten, demikian juga para Camat dan Kepala Desa. Tidak ada wilayah di negeri ini yang tidak ada pemimpinnya, terbagi habis, semua punya pemimpin dan kalau pemimpin itu bekerja bersama-sama, bertanggung jawab bersama-sama, saya yakin dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa banyak masalah yang dapat kita atasi dengan baik dan Masa depan kita tentu akan lebih baik dari sekarang ini.

Selamatkan Bumi secara bersama

Persoalan lingkungan bukan hanya dihadapi oleh Indonesia, dihadapi oleh seluruh umat manusia di dunia. Kalau bumi kita semakin panas, kalau pemanasan global atau global warming tidak bisa kita atasi, apabila emisi karbondioksida tidak terkendali, apabila climate change juga tidak bisa kita kelola dengan baik, yang merasakan seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Oleh karena itu, solusinya meski kerjasama global. Benar, negara-negara yang punya hutan, termasuk Indonesia harus, pertama-tama bertanggung jawab untuk menyelamatkan dan mengelola hutannya. Tapi saya juga menghimbau masyarakat dunia, negara-negara lain yang dulunya punya hutan, sekarang tidak punya hutan, yang juga menikmati hasil-hasil hutan dari negara berkembang, yang sebagian karena tidak dikelola dengan baik, ikut pula membantu dan memecahkan permasalahan ini.

Itulah sebabnya Indonesia, saya meluncurkan inisiatif yang saya sebut dengan F-11, kerjasama diantara 11 anggota atau negara yang memilki hutan hujan tropis. Bersama-sama menyelamatkan hutan kita di wilayah Asia, Amerika Latin dan Afrika yang pertemuan pertama sudah berlangsung di New York yang saya pimpin pada bulan September yang lalu, agar bersama-sama kita menyelamatkan hutan.

Itulah sebabnya Indonesia mengeluarkan insiatif yang di sebut Coral Triangle Initiative (CTI) menyelamatkan sumber-sumber hayati yang ada di lautan . Harus kita selamatkan dengan kerjasama yang punya wilayah itu yang membentang Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, PNG, Solomon Island bersama-sama dan juga bantuan masyarakt dunia. Mengapa? Karena lautan menahan karbon, ada carbon sink. Ini yang saya harapkan dapat dikerjasamakan, kita tidak boleh defensif, tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, tapi kita harus bertanggung jawab mulai sekarang. Selamatkan hutan kita, selamatkan lautan kita, kalau ada kepentingan ekonomi, kita kelola dengan baik, pengelolaan hutan dengan baik, sehingga ekonomi jalan, kesejahteraan meningkat. Saudara kita yang miskin berkurang di tempat-tempat itu, tetapi hutannya tidak rusak dan itu bisa kita lakukan. Dan dengan kerjasama negara-negara sahabat, negara-negara besar, negara kaya, negara maju yang juga punya kepentingan di dunia ini hutan-hutan selamat. Hanya dengan kerjasama itulah yang akhirnya bisa menyelamatkan bumi kita.

Tuan rumah atau host country, Indonesia bertanggung jawab penuh, mari kita bertanggung jawab penuh dan tentunya diperlukan kerjasama yang adil, yang fair, yang konstruktif. Dengan demikian, semua menang, bumi kita selamat, umat manusia selamat, demikian pula generasi yang akan datang.

Kamis, 15 Januari 2009

Link Global Warming

Halaman ini merupakan kompiler beragam artikel-artikel pengantar untuk lebih dalam mengetahui pemanasan global atau global warming dan sebab musabab pemanasan global.

Klik judul artikel untuk mengakses artikel sepenuhnya di sumber aslinya.

* Pemanasan Global, Wikipedia
* Apakah itu Pemanasan Global, Sekolah Online
* Pemanasan Global, Pirba Menristek
* Efek rumah kaca, Wikipedia
* Lapisan Ozon, Wikipedia
* Mengenal Efek Rumah Kaca, Benny Syahputra
* Perlindungan Lapisan Ozon, klh
* Menurunnya kualitas Ozon, (pdf)
* Gas rumah kaca, Wikipedia
* Efek Rumah Kaca, Perubahan Iklim, dan Pemanasan Global, iatapi
* Pemanasan global, Astronomes
* Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, WWF
* Es Kutub Utara Menyusut ke Tingkat Yang Belum Pernah Terjadi, Antara
* Para Ahli Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim, Antara
* Catatan Hari Bumi 2006, WWF
* Perubahan Iklim, dini nuarita rolian
* Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, ofm
* Global Climate Change, Yuan Rosalia
* Pemanasan Global, Langsing
* Pemanasan Global Dipastikan karena Ulah Manusia, Sinar Harapan
* Para Ahli Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim, Antara
*
Ilmuwan Mengemukakan Versi Baru Penyebab Pemanasan Global, EraBaru
*
Laporan Kelompok Kerja II IPCC dan Dampak Pemanasan Global pada Indonesia, Dunia Esai
* Dapatkah Pemanasan Global Mencairkan Seluruh Es di Bumi?, Antara
* Terungkap, Bukti Pemanasan Global, Kompas